Seorang balita masih ingin bermain, bapaknya sudah tak sabar, kemudian berkata, "Bapak tinggal nih ya ... " Kemudian bapaknya berjalan perlahan. Si balita melirik lalu melanjutkan bermain. Bapaknya masih berjalan sambil sesekali menengok ke belakang, dan berkata lagi dengan suara lebih keras, "Bener lho, Bapak tinggal nih ... " Anak tetap tak bergeming. Bapaknya kemudian bersembunyi di balik tembok. Sang anak tetap bermain. Sesekali ia melirik mencari-cari bapaknya. Tak ada wajah cemas dan ketakutan di wajahnya. 2 menit, 3 menit sampai 5 menit berlalu. Akhirnya bapaknya menyerah. "Ayo kita pulang, sudah siang" Dan kemudian menggendong anaknya yang masih tersenyum-senyum.
Ancaman Favorit Orangtua
Seorang balita masih ingin bermain, bapaknya sudah tak sabar, kemudian berkata, "Bapak tinggal nih ya ... " Kemudian bapaknya berjalan perlahan. Si balita melirik lalu melanjutkan bermain. Bapaknya masih berjalan sambil sesekali menengok ke belakang, dan berkata lagi dengan suara lebih keras, "Bener lho, Bapak tinggal nih ... " Anak tetap tak bergeming. Bapaknya kemudian bersembunyi di balik tembok. Sang anak tetap bermain. Sesekali ia melirik mencari-cari bapaknya. Tak ada wajah cemas dan ketakutan di wajahnya. 2 menit, 3 menit sampai 5 menit berlalu. Akhirnya bapaknya menyerah. "Ayo kita pulang, sudah siang" Dan kemudian menggendong anaknya yang masih tersenyum-senyum.


